Jurnal Cara, Kisah dan Kiprah

Saturday, January 6, 2018

Tak AMAN, Gerinda Tinggalkan Pilkada NTB 2018 ?


SIMPULCARA. simpulntb.com. “Solidaritas ikut rasakan penderitaan rakyat” itulah yang terbaca dibalik diskusi isu yang masih isu tentang kabar kesia-siaan Prabowo Subianto yang pernah mengangkat tangan Ahyar Abduh dan Mori Hanafi (AMAN) pada deklarasi dukungan kepada paket yang “KATA PUBLIK” mungkin malu menyebutnya AMAN.

Pertanyaannya kemudian, apa sebabnya kedatangan jendral harapan rakyat itu sia-sia. Mungkin pengalaman penulis bisa menjadi jawaban, ‘MUNGKIN’ bukan semoga. Maksudnya, sebelum terlalu jauh, sebaiknya tetap waspada mengeluarkan pendapat di era ini.

Takut saja bernasib sama seperti Buni Yani dan manusia-manusia melek pemerintah lainnya yang menjadi korban pedih sikap tegas pemerintah yang tak seimbang, jika dibandingkan  pengorbanan para alumni 212 yang sampai rela berjalan kaki, untuk mencari ketegasan.

Membandingkannya dengan ketegasan, ketanggapan dan kebijakan antara begitu banyak problem bangsa yang menyayat. Pada problem yang merugikan segelintir “tegas”. Namun di hal yang merugikan ummat, belusukan berjuang berlindung mencari “citra”.

Hingga, ketakutan ini mungkin lebih parah dari zaman aktivis HAM Munir berkoar, “TAKUT ATU MA”. Ya. Tak ada salahnya waspada.

“Solidaritas ikut rasakan penderitaan rakyat” itulah salah satu hal yang mencuat dibalik pengalaman penulis mendengar diskusi dari Kantor Dewan Pimpinan Cabang (DPC) salah satu partai yang terus berjuang meraih mimpi mempertahankan adicita bangsa agar anak negeri ini tak biasa menjual.

Simpulnya adalah partai binaan Prabowo Subianto terbaca tak ingin para kadernya terbiasa menjual atribut bangsa. Hingga di Pilkada NTB 2018 yang tinggal menghitung bulan ini, terbaca bahwa mungkin Gerindra tak akan mendukung siapa-siapa dan calon manapun, karena mungkin kecewa ternyata yang diusungnya. Entahlah. Kembali ke “TAKUT ATU MA”.

Isu pencabutan dukungan besar-besaran sampai yang mulia Prabowo Subianto menginjakkan kaki ke pulau Lombok, tepatnya di Masbagik pada 1 Oktober 2017 lalu, memang kini masing menjadi pembicaraan internal. Jika saja itu terjadi, tentu juga akan melahirkan tanda tanya dan sangka-sangka.

Diantara sangka-sangka itu terbaca pun melalui kesimpulan atas diskusi internal yang langsung penulis tangkap. Tapi maah. Masih tetap dalam kata mungkin. Adalah :

  1. Gerindra tak ingin melukai hati rakyat, karena paket yang diusungnya ternyata didukung oleh salah satu kuda yang karena tendangannya banyak luka yang tak bisa diobati medis
  2. Gerindra mencabut dukungannya sebagai cara edukasi bahwa idealisme partai tetaplah harus dipertahankan. Jangan bermain dibalik luka rakyat.
  3. Wallahua’lam.
Lalu pertanyaan yang sedang mencari jawaban salah satunya adalah, apakah Gerindra mencabut dukungan untuk tak mendukung siapapun atau apakah Gerindra akan melemparkan dukungan ke calon lain.

Atau,  Gerindra akan tetap mendukung AMAN tetapi syaratnya jangan berkoalisi seperti yang diharapkan ummat yang mungkin saja sudah dianggap menghianat amanat sucinya ayat-ayat. Wallahua'lam. 


No comments:

Post a Comment