Header Ads

Kisah Petisi Kepada Presiden Garuda Indonesia (5)

BACA SEBELUMNYA


Setelah duduk di kursi pesawat, saya kembali mengingatkan pada seorang pramugari yang saat itu bertugas (lagi lagi saya lupa untuk mengingat namanya). Saya berkata ‘tolong kursi roda pribadi saya siap didepan pintu pesawat ketika sudah mendarat’. Pramugari itu hanya berkata ‘ saya akan informasikan’ yang ternyata dia menginformasikan kepada ketua regu flight attendants.

Saya mendengar apa yang diucapkan oleh kepala regu itu ‘terserah nanti pesawat parkirnya dimana, jika ada gardabarata mungkin bisa. Tetapi jika tidak, maka akan disiapkan mobil kecil’. Ucapan seperti itu sudah satu bentuk pelecehan verbal. Saat itu saya sudah merasa tersinggung. Dia menganggap kursi roda saya hanyalah barang pada umumnya. Padahal bagi saya, kursi roda yang saya gunakan adalah bagian dari anggota tubuh saya, bagian dari kaki saya dimana mobilitas saya sangat tergantung pada kursi roda ini.

Ketika pesawat mendarat, seluruh penumpang turun, tak satupun pramugari yang informasikan ke saya apakah kursi roda sudah siap atau belum. Bahkan cabin crew sudah bersiap meninggalkan pesawat. Saya berujar ‘saya masih disini, tolong ambilkan tas saya yang masih diatas, bagaimana dengan kursi roda saya?’. Sang kepala regu meminta pramugari mengambilkan.

Pramugari lain mengatakan kursi roda sudah ada. ‘Apakah itu kursi roda saya?’ Lalu dijawab ‘saya tidak tahu, tapi ini sudah ada kursi rodanya’. Saya keluar. Tapi betapa kecewanya kursi roda maskapai yang disiapkan ternyata kondisinya sudah tidak layak. Saya protes ‘mengapa bukan kursi roda pribadi saya? Mana kursi roda saya?’ Petugas groundmengatakan ‘kursi roda ibu ada di bagasi’.

‘Loh kenapa di bagasi, bukankah saya sudah minta berkali kali agar kursi roda saya siap didepan pintu pesawat?’ kembali saya kecewa ketika ketua regu berkata ‘aturannya tidak boleh bu’. Mendengar itu, saya menanyakan ‘aturan darimana? Bagaimana jika kaki anda yang diperlakukan seperti ini?’ Dia malah berbalik tidak sopan dengan bahasa tubuh dan gerakan tangan yang seolah mengusir saya sambil berkata ‘silahkan ibu complain ke Garuda’. “Loh, bukankah anda dari Garuda?

LANJUTKAN MEMBACA

No comments