Header Ads

Sekolah Pendidikan Guru (SPGN) Selong Bangkit Kembali?


SIMPULNTB.COM. Generasi sekarang, tidak banyak yang tau bahwa pada era atau tahun 90 an pernah ada sekolah khusus pendidikan guru. Sederhananya, namanya adalah Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Lebih sederhana lagi, sebut saja langsung, terkait catatan ini, yaitu soal SPGN Selong.

Sebelum membahas catatan terkait SPGN Selong (browsing di media ini) yang kini bangkit kembali, penulis mencoba membrowsing terkait SPG secara Nasional. Dalam temuan, terdapat banyak tulisan yang secara pribadi, Saya sangat setuju soal bahasannya. Terutama dalam pembahasan yang mengambil judul, “SPG-ku yang Hilang” dan “Hidupkan Kembali Sekolah Pendidikan Guru!”

Kesimpulan alasannya rata-rata soal kwalitas Guru. “SPG-ku yang Hilang” dengan penulis bernama Drs. Hamka, M.Pd menguraikan bahwa Sekolah Pendidikan Guru yang dahulu dikenal dengan sebutan SPG, sekarang tinggal kenangan. 

“Kalau enggak salah sejak tahun 1990-an Sekolah Pendidikan Guru ini (SPG) dibubarkan pemerintah,” kata Hamka.  Pembubaran ini, lanjutnya tentu mempunyai alasan yang kuat, apalagi SPG cuma setingkat SLTA dan sekolah sederajat lainnya sebut saja SMA, SMK dan sebagainya, zaman ini.

“SPG-ku yang Hilang” juga menambahkan urainnya bahwa SPG diganti dengan PG-SD (pendidikan guru sekolah dasar dua tahun atau Diploma II). “Karena SPG dianggap sudah enggak layak sebagai lembaga pencetak guru.

Dalam undang-undang No. 14 Tahun 2005 yaitu tentang guru dan dosen ditambah lagi dengan landasan operasionalnya yaitu Peraturan Pemerintah Nomor. 74 tentang guru dan Permendiknas No. 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi Guru.

“Memang, tamatan Diploma II PGSD, apalagi SPG sudah enggak layak dalam konteks qualifikasi pendidikan guru secara formal,” catat Hamka.

Pada dasarnya ia setuju pembubaran SPG.  "Khusus dalam konteks qualifikasi jenjang pendidikan, Namun untuk roh SPG jangan ikut hilang atau lenyap ditelan bumi. Okelah, kalau SPG dibubarkan mungkin karena dianggap sudah enggak layak karena lulusannya setara dengan SLTA,” urainya.

Kurikulum SPG khususnya mata pelajaran yang terkait dengan ilmu pendidikan dan keguruan, diharapkannya bisa diadopsi secara utuh  oleh lembaga-lembaga pendidikan pencetak guru yaitu Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) atau Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).

“Justru kalau penulis boleh mengenang dan menilai SPG, adalah sebuah lembaga pencetak guru SD paling berkualitas dan terukur pada masa itu, bahkan tergolong sangat mumpuni. "Kalau penulis boleh berpendapat lebih jauh lagi SPG merupakan pabrik guru SD yang paling ideal pada saat itu,"tulisnya

“Ma’af, lulusan SPG juga enggak kalah kualitasnya dengan guru-guru tamatan S1 terutama dalam konteks ilmu keguruannya, walaupun perlu di asah setiap waktu,” sambungnya.

Lain lagi dengan Wahyuni Susilowati, Penulis, yang terbaca dari judulnya  “Hidupkan Kembali Sekolah Pendidikan Guru!” sangat memaksa bukan?. Ada tanda serunya lo. Dengan tegas Wahyuni Susilowati mengatakan bahwa Kasus-kasus ‘pertempuran’ temperamental guru dan murid yang belakangan marak menjadi konsumsi publik melalui pemberitaan media massa maupun medsos memiliki banyak faktor pemicu.

Salah satunya adalah guru yang tidak kompeten. Ketidak-kompetenan ini, menurut analisa banyak pakar maupun praktisi pendidikan, disebabkan oleh sistem pendidikan guru yang kehilangan arah sejak dibubarkannya Sekolah Pendidikan Guru (SPG), Pendidikan Guru Agama (PGA), dan Sekolah Guru Olahraga (SGO) pada pertengahan tahun 1990-an.

Alasan pemerintah adalah guru sekolah wajib bergelar sarjana, sebuah gelar yang bisa dicapai oleh lulusan SMA/SMK umum selama dia berhasil mencapai gerbang wisuda. Tak perlu lagi ada jenjang pendidikan menengah khusus untuk mencetak guru.

Sebuah kebijakan yang sangat kontra produktif mengingat lulusan ketiga sekolah tersebut telah memiliki bekal yang lebih mumpuni untuk mendidik anak-anak SD ketimbang alumni SMA yang melanjut kuliah ke Pendidikan Guru SD (PGSD) ataupun sarjana sembarang yang mengantongi ijin mengajar setelah memiliki Sertifikat Akta IV.

Apalagi di masa keemasannya tidak sembarang lulusan SMP bisa masuk ke SPG/PGA/SGO, hanya mereka yang lulus dengan nilai ujian akhir nasional tinggi plus lolos seleksi masuk berlapis-lapis yang diterima menjadi kandidat guru. Lalu bagaimana dengan SPGN Selong.

SPGN Selong Bangkit Kembali?

SPGN Selong kini terbaca bangkit kembali. Tentu bukan soal sekolahnya, yang mau dibuka kembali. Sekali lagi bukan. Namun melalui semangat H.L.M Nursalim, S.Pd,M.Si yang jujur dalam hati terdalam penulis, adalah seorang guru besar, guru sejati.  Diakui oleh penulis dan juga dimanapun tempat tokoh ini pernah mengabdi.

H.L.M Nursalim, S.Pd,M.Si bersama sahabat seperjuangan di masa remajanya dulu. Singkatnya dimasa ketika beliau-beliau menimba Ilmu di SPGN Selong kini sudah membentuk sebuah wadah bernama Ikatan Alumni Sekolah Pendidikan Guru Negeri Selong (IKA SPGN- Selong).  Baru terbentuk, langsung beliau terpilih menjadi Ketua.

Belum satu minggu ikatan ini berjalan, Alhamdulillah sudah terbaca akan mengukir kiprah. Catatan penulis adalah dari kegiatannya yang bernama IKA One Day terbaca sebuah cita-cita besar, yang mungkin saja sama dengan harapan Drs. Hamka,M.Pd Pengawas Sekolah Utama Jakarta Barat yang bermimpi bahwa Roh SPG tetap selalu ada untuk para guru-guru yang memang tercetak sebagai guru.

 Mungkin sama juga dengan Wahyuni Susilowati, seorang penulis terverikasi di Jurnal Nasional yang dengan tegas (melalui tulisannya) dan tulisan-tulisan para pengamat bahwa Kasus-kasus ‘pertempuran’ temperamental antara guru dan murid akhir-akhir ini, penulis tambahkan, mungkin karena banyaknya Sarjana Copy Paste. Entahlah.

Doa kami, semoga IKA SPGN Selong mampu mewujudkan harapan seperti apa yang disampaikan Bung Hamka “roh SPG jangan ikut hilang atau lenyap ditelan bumi”. SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL, 2 Mei 2017. (Simpul/01)

Ngiring Baca,

  • Mengenang Kembali SPGN Selong
  • 20 Koorcam IKA SPGN Selong Solid Sukseskan Hardiknas 2017
  • Karena IK SPGN Selong, Hari Buruh Jadi Beda
  • IKA SPGN Selong, Siap Sukseskan HARDIKNAS 2017
  • Entrasol, Bersama IKA SPGN Selong berdedikasi Meriahkan Hari Pendidikan Nasional
  • Tuan Guru M. Zainudin Arsyad, 65 Tahun Multi Kiprah 
  • Ali BD dalam Ensiklopedia Ulama' 
Bareng Belajar Lekan Cara, Kisah dan Kiprah, Sajian SIMPULNTB.COM - Jurnal Data, Kisah, dan Kiprah

No comments