Header Ads

Kiprah Tulisan dan Kisah Anak Trauma Menulis

Tulisan, semua tau kiprahnya. Namun sayang, banyak yang tak menghargai penulisnya. Apalagi zaman ini. “Tulisan” baik sebagai kata kerja maupun kata benda, dan kata-kata yang lain, termasuk kegiatannya semakin diapatiskan.

Diantaranya contohnya adalah kisah ini. Ini soal kisah ibu yang bercerita dan sempat meneteskan airmata. Ibu ini bercerita tentang sebuah lomba yang pernah diikuti anak tercintanya. Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR) itulah namanya.

Lomba yang membuatnya trauma menulis karena tingkah sekolahnya. Sekolah yang bernaung di bawah designan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur. Saat itu si Anak yang dibimbing tanpa anggaran oleh ibunya.

Ya Maklum, yang namanya ibu,  “Kasih Ibu sepanjang masa, selalu memberi tak harap kembali” namun sayang, keinginnanya untuk memberi yang terbaik untuk anaknya, minimal bisa Lolos ke Tingkat Nasional dalam LPIR itu, sayangnya berakhir dengan trauma nan malas dengan aktifitas tulis menulis.

Pasalnya, diceritakan si Ibu, hasil tulisan anaknya, hasil semangat anaknya, dari saat merangkai harapan, dituangkan dalam kata-kata, diracik dengan berbagai sumber pustaka, berekspedisi dalam penelitian untuk karya Ilmiahnya dengan hasil, dari judul sampai hasil penelitian, ia selalu diyakinkan oleh pembimbing dari Provinsi NTB yang sangat baik hati.

Walau tak dibimbing sekolah saat itu, atau hanya atas nama pembimbingnya saja alias yang membimbingnya adalah ibunya, maka “si anak” dengan semangat mendengar bahwa Karya Ilmiahnya terbaik se-NTB atau bisa mewakili Lombok Timur ke Tingkat Nasional.

Sampai pada tahap pengiriman, ia masih dihubungi oleh pembimbing Provinsi yang sering menjadi fasilitator lomba dan nge-fans terhadap karya Ilmiahnya. Namun apes nasibnya, ketika ia mengajukan tanda tangan pembimbing dan kepala sekolahnya, ia berhadapan dengan sebuah birokrasi yang mematahkan semangatnya.

Sampai kepada deadline waktu pengiriman. Sekolahnya selalu membunuh karakternya. “Andai saja, anak saya tak lulus karena seleksi, saya tak akan kecewa, tapi ini masalah jawaban dan birokrasi sekolah dengan karya hanya sampai diatas meja,”demikian simulasi bahasa ibunya. Bahasa dan cerita yang sebenarnya, sesungguhnya lebih pedas, yang intinya hasilnya adalah “malas menulis”

Namun demi nama baik sekolah, maka cukup bahasa itulah yang terpublish. Itu juga alasan mengapa nama sekolah tak naik, apalagi nama keluarga yang malang karena putus harap itu, pun karyanya. Pertimbangannya jika dipublish akan membuatnya beresiko. Bisa jadi Kepala Sekolahnya Dimutasi, Keluarganya Dibully.

Tapi apa mau dikata. Ini harus terungkap, ini harus didengar. Karena manfaatnya tentu akan lebih besar. Harapannya adalah semoga kesewenang-wenangan terhadap penelantaran minat dan bakat anak bisa dihentikan.

Semoga pula dengan kisah ini, ada upaya preventif dari Dinas Terkait. Dinas yang ditakutkan guru-guru dan kepala sekolah apatis untuk tidak main-main soal pembinaan olah bakat dan olah minat anak. Amin.

No comments