Header Ads

99 Hikmah TGB (2 dari 99) : Obat Amnesia, “Kemerdekaan Indonesia adalah Warisan Ulama”

Dok. HUMAS PEMROV NTB
SAMBUNGAN 1 DARI 99. Dengan banyaknya harapan muncul, terkait elektabilitas TGB di kancah Nasional. TGB sebagai seorang ulama’ yang telah sukses menjalankan amanah sebutan (gelar Ulama’, Umara’) dengan perjalanan yang hampir tanpa cela. (Ada sih, cuman enggak banyak, karena ulama’ adalah manusia)  Maka, semoga Islam (kebenaran dari hati) semakin jaya.

Namun demikian, jangan sampai ada yang berpura-pura menjadi ulama’ untuk mendapatkan jabatan umara’. Jangan sampai ada yang memperbodoh jamaah untuk mendapatkan banyak pilihan. Kembali lagi menyentil sebuah pesan “Jika ada ulama yang ingin terjun langsung menekuni profesi sebagai politisi dan birokrat enggak ada larangan. Toh, bukankah Negara dan kemerdekaan ini adalah warisan para ulama,”

“Yang mestinya diperdebatkan adalah bukan boleh tidaknya ulama masuk kekuasaan melainkan mampu dan tidaknya mereka jika ikut berkompetisi di dunia politik kekuasaan yang profan dan korup itu,” kata Sumanto al Qurtuby.

Kita juga mesti melihat dan membaca bahwa pra-syarat berupa kompetensi personal, yaitu kualitas individual, integritas moral, dan kemampuan untuk memahami politik dengan baik. Jika para ulama memiliki kapabilitas untuk memahami dan mengelola politik, mengapa tidak diberi kesempatan untuk ikut bertarung di panggung politik yang disebutnya memiliki watak korup.

Oleh sebab itu, disinilah rakyat seperti saya menilai dan mengajak, bahwa rakyat harus belajar cerdas. Bukan dicerdaskan. Karena jika dicerdaskan, bisa jadi cerdasnya salah jalur. Dari Lombok Timur diajak ke Mataram, tapi diajarkan melintasi jalur Sambalia. Kejauhan kan?. Sampai obel-obel motor mogok. Jadi enggak nyampai kan?.

Maksudnya adalah disinilah “mereka” harus paham bahwa—mohon maaf—kita juga harus membaca siapa dan kemampuan yang ditakdirkan. Simpelnya bahwa orang yang bukan komunis itu sesunguhnya cerdas-cerdas. Jadi jangan sok-sok-an memberikan berbagai justifikasi terkait Islam. Kami terus bisa baca diri kok.

Kami membahas itu, karena tidak menutup kemungkinan, bahwa banyak cara menjegal kehadiran pemimpin yang sudah terbukti dan teruji ini, terutama dari kalangan yang tak mengakui darimana asal usul dan sang pemberi kehidupan. Hingga, kami tegaskan, bagian dari tujuan menulis ini salah satunya adalah soal kedudukan beliau (ulama’) dengan pamor yang kini semakin meroket.

Kembali ke Obat Amnesia. Ya. Ini masih soal-nya. “Ulama”. TGB dengan dua priodenya. TGB dengan takdirnya mampu memelihara ayat suci dibalik kesibukannya. Menjadi pelajaran bahwa, tidak selamanya karena politik orang bisa rusak. Walau politik itu, kata Iwan Fals merupakan dunia binatang.

Di posisi yang sama, banyaknya cemohan tentang dunia politik, seringkali menjadi alasan mendeskreditkan ulama yang ikut dalam politik. Baik secara langsung, atau pun meminjam bahasa mereka terutama yang “alergi” dengan agama dan sok merasa berjasa dengan kemerdekaan bangsa ini. Padahal jika melihat perjalanan masa lalu terkait Indonesia, baik dalam sejarah yang dibukukan oleh orang yang anti ulama’ atapun sebatas untuk bisnis, rata-rata kita bisa baca bahwa peran ulama’ dalam bangsa Indonesia sangatlah besar.

Panglima TNI Jendral Gatot Nurmayanto pun mengakuinya. Disampaikannya bahwa Bangsa Indonesia merdeka karena peran aktif para kiai dan ulama bersama-sama dengan umat agama lain, berbagai macam suku berjuang bersama-sama sehingga Indonesia menjadi bangsa yang hebat dalam meraih kemerdekaan.

Singkatnya, hikmah diutusnya TGB semoga bisa sebagai obat Amnesia bahwa kemerdekaan Indonesia adalah bagian dari warisan para ulama’. Atau dengan kata lain, mengaungnya Tuan Guru sebagai gelar kemasyarakatan untuk tokoh agama dari Lombok (ulama’) dengan di takdirkannya cucu Maulana Syaihk KH. M. Zainuddin Abdul Majid ini harum di kancah nasional, maka semoga bisa membuat Indonesia sembuh dari Amnesia terkait perjuangan para Ulama. (Bersambung)