Header Ads

99 Hikmah TGB (1 dari 99) : Harmonisasi Paham Kerakyatan terkait Ulama dan Umara'

Doc. Humas Pemrov NTB


SAMBUNGAN 0 dari 99. Dalam sebuah acara di  MetroTV, dengan host tuan rumah Najwa Syihab, harum harapan kancah nasional mendukung TGB Putra NTB ini juga terbaca. Videonya Disini. Tepuk tangan menggema disana. Tepuk tangan sih lumrah, tapi jawaban-jawab lugas TGB itu lo, semua yang menonton pasti bangga.

Keluar dari paragraph pertama. Dari pustaka diatas kita sudah mendapatkan hikmah bahwa Muhammad Zainul Majdi, Gubernur NTB yang sekaligus diakui sebagai seorang ulama’ menghadirkan sebuah hikmah terkait paham rakyat bahwa ulama’ (secara umum) itu tidak judes-judes amat (mengambil bahasa gaul dan paham masa lalu).

Lalu. Kita sudah ambil hikmahnya, kan?. Sebelum Tuan Guru Bajang masuk dalam dunia Politik, atau sebut saja pada masa kampanye tahap awal (2008-2013) harus diingat bahwa begitu banyak tantangan Tuan Guru ketika masuk dalam dunia politik. Bukan TGB saja. Secara Nasional seluruh ulama’ pun mendapatkan sorotan yang sama.

Begitu banyak yang menentang, bahkan ada yang mengatakan bahwa Ulama’ yang masuk dalam dunia politik, tak layak lagi disebut ulama’. Tidak sedikit pula, tulisan-tulisan begentayangan membahas politik yang diikuti oleh ulama’. Tidak segan-segan pula bahasa tulisanya menuding bahwa keinginan ulama’ terjun dalam agenda ini disebut sebagai “Syahwat” politik.    

Diantara contohnya adalah bahasan yang berjudul Ulama’ Politik dan Politik Ulama’. Dalam tulisan yang katanya membahas opini Sumanto al Qurtuby itu, dengan agak nyeleneh membandingkan ulama’ sesuai judulnya. Bahasa-bahasanya pun banyak yang menyamakan antara manusia dan hewan.

Namun, jangan khawatir, karena penulisnya cukup professional. Diujung tulisan, dengan lunak, penulis memberikan pemahaman yang cukup rapi. Catatannya membangunkan pemahaman bahwa berkaca pada sejarah sepanjang abad ke-19 dan awal abad ke-20 memang telah bermunculan agitasi militan terhadap Belanda yang disponsori para ulama.

Kondisi ini menunjukkan bahwa, rakyat sudah mulai harmonis dengan beragam pertentangan terkait ulama yang masuk dalam dunia politik dan ulama’ yang sebatas mendukung salah satu calon dengan ikut berkampanye terkait siapa pemimpin yang pantas didukung dalam agenda politik (Baca : Pilkada, Pilbub, Pilgub, Pilpres).

Atau mungkin mereka menjelekkan ulama’ karena takut kalah?. Entahlah. Malas membahasanya. (Bersambung)