Header Ads

Cerita TGH. Abdul Karim, Daftarkan Ali BD Jadi Wali Kota Mataram

Tuan Guru Abdul Karim - Mataram
SimpulNTB.COM. Memang benar-benar kemeleq (kemauan.red) rakyat Ali BD terpanggil untuk menjadi pemimpin. Bagi redaksi yang merupakan kanak baru tiwok, kondisi ini mulai terasa pada Pilkada 2013 silam. Tapi, sepertinya teralu panjang jika bercerita. Banyak yang tau Ali BD, menjadi Bupati ataupun apa saja cukup jelas terbaca tujuannya bukan untuk membesarkan kerajaan, organisasi, atau entah apa namanya.

Walau demikian tentu banyak pula yang tak suka. Karena berjuang untuk kemaslahatan itu memang banyak tantangannya. Sama seperti awal mula penulis simpati kepada Ali BD, yaitu ketika mengantarkan sebuah berkas laporan korupsi dan copy file video fitnah Ali BD berzina (2007). Tujuannya cukup jelas, bagaimana melengserkan Ali BD pada pesta Pilkada 2008-2013. 

Singkat ekspedisi, apa yang disampaikan para tokoh dalam bagian dari catatan yang bersumber dari para ulama' ini semoga menjadi refrensi publik bahwa menjadi calon pemimpin pemerintahan itu, sebaiknya jangan menang hanya dengan cuap-cuap proyek sesaat. Pamer visi dengan pola pemborosan, sewa billboard, tender pasang baliho, singkatnya, kasian rakyat.   

Ali BD dalam Undangan Karang Genteng - Mataram

Terkait judul, adalah TGH. Abdul Karim - Mataram dalam sebuah wawancara khusus pada 9 Januari 2017, menjawab  "Saya kenal Ali BD itu dari tahun 1988,"tutur TGH. Abdul Karim Hasan Basri.  Pengurus Majelis Zikir Darul Mujatami'in Sayang-sayang, Kota Mataram ini juga menceritakan bahwa bersama Ali BD sejak dulu pihaknya sering berkeliling ke banyak Desa. Ia juga bercerita bahwa pada awalnya Ali BD itu tidak ingin menjadi pemerintah.

"Dulu, Saya yang paksa dia untuk menjadi pemerintah, tapi dia tidak mau. Waktu itu, bagaimana agar ia mau menjadi Wali Kota Mataram,"lanjut TGH. Abdul Karim Hasan Basri.

“Buat apa jadi pemerintah,” lanjutnya menirukan kata Ali BD.   Kemudian ada salah satu sahabat saya, dia yang saya tanya bagaimana supaya Ali BD itu mau jadi pemerintah. Nah, sehingga saya bertemu dengan salah satu sahabat, dia itu seorang pegawai, dia memberikan saya petunjuk untuk membuat surat lamaran bersama lima partai.

Suasana dari Luar dalam Silaturrahmi Ali BD di Kota Mataram
Setelah surat itu jadi, kemudian saya bawa surat itu kepada Ali BD. Saya minta tanda tangan lengkap dengan stempel pada beliau. Tetapi saya tidak kasih tahu tujuan saya secara langsung, tetapi saya berkata: “Saya mau minta sumbangan, syaratnya harus ikut serta membangun, tetapi jangan di baca” TGH. Abdul Karim Hasan Basri bercerita panjang lebar.


 
Setelah Ali BD menandatangani dan saya stempel. Saya langsung membawa surat lamaran itu ke Wali Kota. Sesampai di kantor Wali Kota. Saya ditanyakan petugas.

“Mau apa?” kata salah satu staf.

“Saya mau ngelamar,” kata saya (TGH. Abdul Karim Hasan Basri)

“Mau lamar apa?”, katanya.

“Mau jadi Wali Kota” tegas saya.

“Sekarang ngelamarnya dimana?.” Saya tanya lagi.

“Kan mau jadi Wali Kota, kok tempat ngelamar tidak tahu” TGH. Abdul Karim Hasan Basri ditanya petugas. 

“Saya kan nggak pernah ini itu. Saya kan baru belajar, nanti kalau saya sudah jadi, pasti saya tahu,” jawab

“Kalau begitu, masukkan ke DPR.”tegasnya.

“Dimana kantor DPR-nya?” kata saya.

“Kok kantor DPR juga tidak tahu,” kata dia lagi.

 “Masalahnya saya tidak pernah mengurus hal semacam ini.” tegas saya.

NOTE. (Pembicaraan dalam Dialog kami tulis sesuai rekaman) Contohnya DISINI

Kemudian langsung TGH. Abdul Karim Hasan memasukkan lamaran pendaftaran Ali BD saat itu  ke panitia pendaftaran saat itu di Kantor DPR. Singkat cerita, menjelang dua hari, TGH. Abdul Karim Hasan kemudian mengontrol  Ali BD ke kontrol  Yayasan Swadaya Membangun (YSM). Ternyata, disana sudah ada wartawan. Begitu Wartawan dan Ali BD keluar, dia langsung berkata:

“Sekarang saya tahu maksud Tuan Guru,” kata Ali BD.

Siapa yang memberi tahu?” tanya TGH. Abdul Karim Hasan Basri.

drg. H. Asrul Sani, M.Kes

Amaq Asrul diam. Ternyata kabar pendaftarannya sebagai calon Wali Kota saat itu diketahuinya dari wartawan. Ali BD kemudian angkat bicara bahwa dia tidak akan nyalon. Lalu dengan tegas TGH. Abdul Karim Hasan Basri memberontak.

"Kalau bapak (Ali BD) tidak jadi nyalon, berarti saya yang bohong. Kalau saya bohong, apa kata orang nanti?"

“Kalau begitu saya siap!” kata Ali BD.

Akhirnya dia siap untuk menjadi calon Wali Kota. Tetapi kalah satu suara dari H. Moh. Ruslan SH. (


PENGUMUMAN

Pandangan TGH. Abdul Karim Hasan Basri  lebih lengkap sedang disusun dalam buku dengan tema Ali BD Di Mata Ulama dan Sahabat, karya TGH. Abdul Latief HR dan Tim Penyusun / Redaksi SIMPUL NTB.

Selain itu akan di update bertahap di www.simpulntb.com. Sebagai agenda ngiring belajar lekan kisah dan kiprah para Tokoh Edisi Amaq Asrul dalam Ensiklopedia Ulama’.

No comments