Header Ads

Yuk ! Kenalan ma Diskusi Kampung, Inspirasi dari Gema Alam NTB

Diskusi Kampung, bagiku istilah yang langka. Yakin dah pasti bagi pembaca juga. Kecuali pembaca adalah pejuang-pejuang tangguh yang bekerja tanpa seragam. Bekerja di kampung-kampung yang seringkali terjual atas nama program-program di sebuah Rencana Kerja Anggaran (RKA) SKPD  yang ujung-ujung memiliki laporan fiktif.

Bagi para pejuang itu tentu istilah Diskusi Kampung tidak langka lagi. Ya, saya ulang tidak langka. Namun bagi sebagian ummat termasuk saya, cukup langka. Itu sebabnya saya kasih judul Yuk Kenalan ma Diskusi Kampung. Setuju. Setuju enggak setuju. Saya nulis kan bukan pake anggaran bangsat. Bermanfaat juga sih.

Istilah Diskusi Kampung saya dapatkan dari Gema Alam NTB. Sebuah organisasi swadaya masyarakat dengan profil bisa di lihat di LINK ini. Sumber tulisan soal Diskusi Kampung ini, saya ambil dari Bulletinya gema Alam. Ditulis oleh Devisi Tala di Gema Alam.

Tujuan dari diskusi kampung ini yaitu menggali persoalan yang dihadapi oleh komunitas dalam merealisasikan perencanaan yang sudah disusun secara bersama – sama oleh laki – laki dan perempuan dalam pengelolaan sumber daya alam.

Diskusi tersebut dilaksanakan bersama penggerak desa dan komunitas untuk mengetahui sampai sejauh mana perencanaan yang sudah dibuat berjalan maksimal.  Diskusi kampung juga dilakukan untuk memantapkan pengetahuan dan keterampilan penggerak desa dan komunitas di dalam pengolahan hasil hutan bukan kayu dan penguatan kelembagaan komunitas baik laki – laki maupun perempuan.

Beberapa tahapan dan hasil dari diskusi kampung yang sudah dilakukan di enam desa akan digambarkan dalam buletin ini. Untuk desa Suela, misalnya, Diskusi Dilaksanakan bertahap bulan Agustus 2016. Dalam diksusi kampung I ini yang menjadi pokok bahasannya yaitu penguatan kelembagaan.

Seiring perjalanannya Kapsul sempat mengalami kevakuman karena pengurus yang ada tidak terlalu aktif. Pada Akhirnya, dari sekian diskusi menghasilkan perencanaan Formula-Kapsul yang sudah dimerger dalam satu perencanaan secara sistematis dalam bentuk rencana strategis yang mengarah pada mewujudkan Sekolah Alam (EPE Center).

Selanjutnya adalah Desa Mekarsari. Diskusi Kampung Kelompok Laki – laki dan Perempuan di desa Mekarsari   fokus menggali potensi dan kebutuhan komunitas di Desa setempat. Ada banyak potensi yang muncul, namun ada satu potensi yang tidak pernah muncul pada setiap kali penggalian potensi dan kebutuhan, yaitu Bambu.

Jenis tanaman ini ternyata cukup banyak di sini, dan memiliki multifungsi. Gambaran rinci terkait hasil diskusi ini selengkapnya akan di bahas khusus. Desa selanjutnya adalah desa Sapit. Sejak terbitnya izin usaha pemanfaatan hutan kemasyarakatan (IUPHKm) dari Gubernur NTB pada bulan Mei tahun 2016, kelompok HKm yang tergabung dalam Gapoktan melakukan pembenahan – pembenahan di internal baik di pengurus inti dan pengurus blok.

Mengingat dalam poin izin tersebut selambat – lambatnya dalam jangka waktu 6 bulan sejak izin dikeluarkan kelompok diharapkan melakukan kegiatan nyata baik di kawasan maupun di kelembagaannya. Sekaligus mendukung rencana dari kelompok untuk menjadikan kawasan HKm menjadi pusat agroforestry dan agrowisata di Lombok Timur. Pendampingan dan diskusi intens harus sering dilakukan mengingat kawasan HKm ini terbagi menjadi 6 blok dan setiap blok ada anggotanya.

Membaca kondisi tersebut,  pendampingan untuk desa lebih intensif. Diskusi dilakukan pada bulan Agustus 2016 dengan menghadirkan anggota blok Serata. Agenda  dikusi ini membahas tentang kawasan HKm yang masih rimbun dan reshuffle pengurus yang tidak aktif.  Dari proses diskusi ini menghasilkan kesepakatan  terbentuknya pengurus blok serata yang baru. Selain itu, semua anggota blok Serata bersedia untuk menggarap lahannya masing – masing.

Demikian gambaran dari Diskusi Kampung yang semoga menjadi inspirasi bersama. Untuk Diskusi Kampung di desa yang lain simak informasinya di Buletin Gema Alam NTB dan media Gema Alam lainnya, seperti www.gemaalam.org dan media sosial Gema Alam NTB.

No comments