Header Ads

Kisah Petisi Kepada Presiden Garuda Indonesia (6)

BACA SEBELUMNYA


Saya mengalah, lalu menggunakan kursi roda tak layak pakai. Petugas ground yang saat itu membantu mengatakan bahwa lift tidak bisa digunakan karena sedang renovasi. Saya dibawa keluar melewati pintu keberangkatan dan kembali ke pintu kedatangan tapi dari arah berlawanan. Sesampainya di depan baggage claim, kursi roda saya ada di depan counter executive baggage. Setelah saya periksa, rem sebelah kiri saya bengkok! Ring salah satu roda besar saya juga banyak cacat goresan!

Saya membuat complain mengenai perlakuan kepala regu dan kerusakan kursi roda saya. Saya meminta untuk direspon oleh Garuda tidak lebih dari 24jam. Saat itu waktu menunjukan pukul 17:30, padahal pesawat landed pada pukul 16:40. Para petugas di counter claim tidak dapat menjanjikan apapun.

Cerita ini memang panjang. Tapi saya masih ingin mengemukakan kekecewaan yang terakhir. Hari itu, Jumat, tanggal 25 Mei 2012 pukul 14:06, saya ditelpon suami yang mengatakan bahwa ada petugas dari Garuda yang akan reparasi kursi roda. Petugas datang sendiri menggunakan motor, begitu katanya. Lalu saya bicara langsung dengan petugas tersebut lewat handphone suami. Cara bicara petugas terdengar tidak profesional;

“Halo bu saya teknisi dari Garuda mau betulkan wheelchair ibu, kapan ibu tidak pake wheelchair-nya supaya bisa saya bawa untuk reparasi?” Saya menjawab “Mas, saya itu pengguna kursi roda. Saya berjalan memakai kursi roda. Jika mau bawa kursi roda saya lalu saya berjalan dan mobilitas saya pake apa? Kursi roda itu kaki saya, Mas, bukan barang yang bisa seenaknya dibongkar pasang.” Petugas itu balik bertanya “terus ibu maunya apa, solusinya gimana?”

Saya jawab “Saya mau Garuda bertanggung jawab dengan mengembalikan kondisi kursi roda saya. Mas datang saja ke kantor saya untuk temui saya, lihat kondisinya, jika Mas sudah siap dengan tools-nya mungkin bisa dibetulkan di kantor saya”. Petugas itu kembali menyela “saya bukan teknisi wheelchair, Bu, saya teknisi koper”. Saya berkata “Loh, bagaimana ini, yang rusak kursi roda tetapi mengapa dikirim teknisi koper? Mas temui saya saja dulu di kantor, saya tunggu ya, alamatnya sudah saya SMS via handphone suami saya ini”.

Pukul 15:00 petugas yang mengaku teknisi dari Garuda itu datang ke kantor menemui saya. Petugas yang datang ternyata jauh dari dugaan saya bahwa petugas Garuda adalah orang yang berpenampilan sopan, rapi, bersih, dan berkata santun layaknya melayani pelanggan. Petugas hanya menggunakan kaos oblong lusuh, celana jeans lusuh dan sobek, beralas sandal, tidak mengenalkan diri, langsung berkata “Mana yang rusak, Bu?” Saya menunjukan bagian kursi roda yang rusak.

Kembali dengan nada tak sopan, petugas berkata “Ini sih gampang aja, Bu, saya copot biar saya bawa ke sana, cuman kaya gini doang”. Saya berkata “Mas, berapa kali saya bilang, ini adalah bagian dari kaki saya, mana mungkin mas bisa seenaknya mengambil bagian ini begitu saja, kalau rem ini dilepas satu bahaya untuk saya.” Debat antara saya dan petugas memuncak, sampai dia berkata “Saya bukan orang Garuda, saya teknisi koper yang dikirim Garuda di bandara Cengkareng”. Mendengar itu saya memintanya kembali untuk menyampaikan pesan bahwa yang diperlukan adalah teknisi wheelchair bukan teknisi koper.

Pukul 15:36 saya menelepon claim counter bandara Cengkareng, saya bicara dengan petugas claim bernama Anna. Saya melaporkan kejadian dengan petugas teknisi Garuda yang baru saja terjadi. Anna meminta saya untuk berbicara langsung dengan supervisor-nya saat itu. Dia meminta saya untuk memutus telpon saya dulu dan dia akan telepon balik pada saya.

Anna berjanji akan menghubungi saya kembali untuk berbicara dengan supervisornya. Sampai hari Selasa tanggal 29 Mei 2012 pukul 14:30 ini saya tidak pernah dihubungi oleh pihak Garuda.

SUMBER : https://www.change.org/id

No comments