Header Ads

Kisah Petisi Kepada Presiden Direktur Garuda Indonesia (1)

Petisi kepada Presiden Garuda Indonesia terjadi berawal dari Cucu Saidah pelanggan maskapai Garuda Indonesia. Dicatat oleh sumber TEMPO.CO.ID, pelanggan ini sering mendapat perlakuan diskriminatif. Karena memakai kursi roda, setiap mau terbang ia diminta menandatangani surat yang menyatakan apapun yang terjadi di pesawat, bukan tanggungjawab maskapai.

Masih dari TEMPO, dikisahkan bahwa Ia kesal atas diskriminasi ini. Cucu pun memulai petisi yang langsung mendapat dukungan 1761 orang. Esoknya, Garuda menemui Cucu, menyatakan maaf. Setelah itu, Garuda pun mengbah pelayanannya dan tidak lagi bersikap diskriminatif terhadap penyandang disabilitas. 

Di situs CHANGE.ORG pembuat petisi mengatakan bahwa ia sering merasa bertepuk sebelah tangan. Penyandang disabilitas sering kali tidak diberikan hak akses dan perlakuan yang sama. Berikut kisah lengkap petisi ini yang langsung kami copas dari situs terkait.

Dicontohkan, dari gate ke pesawat bis tidak dilengkapi akses disabilitas. Naik tangga ke pesawat pun harus merangkak. Di pesawat, sulit sekali dapat kursi depan. Ini penting untuk akses naik turun pesawat, dan akses toilet. Bayangkan saja, ke toilet terkadang harus merangkak! Bisa digendong, tapi resiko lebih tinggi.

Tapi yang paling menyakitkan, kami sering dianggap merepotkan bagi kru, sehingga kami diperlakukan kasar. Sebelum naik pesawat, kami disuruh tanda tangan surat “sakit”. Salah satu klausulnya, Garuda tak bertanggung jawab atas kejadian apapun, implikasinya tidak dilindungi oleh asuransi. Ini jelas diskriminasi. Disabilitas bukan penyakit! Saya tolak surat itu, sampai diancam tidak bisa naik pesawat.

Garuda Indonesia yang katanya “World’s Best Regional Airline” harus membuktikan bahwa mereka layak dapat penghargaan itu.

Setelah saya mulai petisi dan somasi Garuda dengan bantuan YLBHI, mereka merespon cukup cepat. Kemarin dalam rapat di YLBHI mereka pun minta maaf dan berjanji berubah. Ini harus diapresiasi.

Namun ini harus terus dikawal, sampai mereka benar-benar berubah, dan memperlakukan komunitas difabel lebih baik. Kemarin teman kami Sunarman pulang ke Solo, dan masih disodori surat itu.

Penyandang disabilitas tidak perlu dikasihani, hanya perlu diberikan hak akses dan perlakuan yang sama.

 LANJUTKAN MEMBACA


No comments