Header Ads

Kisah Petisi Kepada Direktur Garuda Indonesia (4)

BACA SEBELUMNYA

Rasa kecewa ini berawal saat saya berperjalanan 25 September 2011, Cengkareng – Makassar, GA610, Class Y, Seat 9D, boarding pukul 14:00 Wib. Dua hari sebelumnya saya menelpon layanan online GIA, memesan kursi di baris depan untuk memudahkan kaki kiri saya yang tak sampai ke lantai. Jawabannya “itu bisa dilakukan saat check in.”

Permintaan ini saya ulangi saat check in, 25 September. Dengan nada ketus petugas tak memenuhinya. Saat diminta menunggu di Help, saya dibiarkan lebih dari 30 menit. Beberapa petugas asik bergurau. ‘Kapan akan dilayani?’ tanya saya. ‘Tunggu ya bu, kami sedang sibuk.’

Karena terlalu lama, saya protes. Tapi diacuhkan. Mereka tetap asik bergurau dan sibuk dengan ponsel.  Hingga ada petugas menyodorkan surat keterangan penumpang sakit. Salah satu klausulnya, maskapai Garuda tak bertanggung jawab atas kejadian apapun, implikasinya tidak dilindungi oleh asuransi. Surat harus ditandatangani 4 rangkap berikut materai 6000 tetapi harus dibayar 10000.

Saya menolak secara halus. Petugas bersikukuh sampai mengancam saya tidak diijinkan naik pesawat. Saya marah, menelpon Komnas HAM dan organisasi penyandang disabilitas. Mereka menguatkan saya bahwa isi surat bersifat diskriminatif.  Akhirnya saya dibolehkan berangkat tapi perlakuan petugas sangat tidak ramah.

Kekecewaan kedua dipicu perjalanan 28 Oktober 2011, tujuan Jogja – Cengkareng, GA217, Boarding 19:40, class Y, seat 5D. Saya menunggu kursi roda yang tak ada di pintu pesawat. Sebagai penerbangan malam, ternyata tidak ada Garda Barata saat mendarat. Awak pesawat tampak acuh saat lewati saya yang saat itu sudah menunggu kursi roda lebih dari 15 menit, semua penumpang turun dan pergi naik bis transit bandara.

Kekecewaan bertambah lagi saat berperjalanan 24 Mei 2012, dari ogja – Cengkareng, GA0213, Class Y, Seat 5E, boarding pukul 15:15 Wib.

Ketika check in di Jogjakarta, petugas saya anggap sudah mulai mengerti karena tak meminta saya untuk menandatangani surat sakit. “Apakah ada barang yang akan dimasukkan dalam bagasi?” Kebetulan saat itu tak ada. Petugas memberi tag number untuk kursi roda pribadi saya.

Saya meminta petugas tersebut untuk memastikan kursi roda pribadi bisa saya gunakan sampai depan pintu pesawat, juga saat sampai di bandara tujuan. Petugas check in menjanjikan untuk mengirim telex ke cabin crew. Guna memastikan, kursi roda diberi 2 tags khusus yaitu ‘priority’ dan ‘executive class’. Koordinasi ground staff lancar hingga boarding.

LANJUTKAN MEMBACA

No comments